Pendidikan Islam Dan Muhammadiyah di Minangkabau - Website Resmi MTs Muhammadiyah Sungai Batang
Headlines News :
Home » » Pendidikan Islam Dan Muhammadiyah di Minangkabau

Pendidikan Islam Dan Muhammadiyah di Minangkabau

Written By MTsM Sungai Batang on Wednesday, April 3, 2013 | 3:20 PM

 Berbicara mengenai pendidikan Islam di Sumatera Barat sejak masa kerajaan Islam sampai masuknya masa pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Minang Kabau yang bertujuan untuk menyempurnakan pendidikan dan pengajaran Islam dengan carayang baik dan benar. Tokoh-tokoh pembaharuan ini merupakan pelopor yang memperoleh pendidikan langsung dari Mekah. Setelah tamat belajar  mereka kembali ke Minang Kabau dengan tujuan menerapkan cara-cara pendidikan dan pengajaran yang baru. Tokoh-tokoh itu diantaranya adalah ; Syech Burhanuddin dari Ulakan, Tuanku Imam Bonjol, H.Sumaniak, H.Piobang, H.Miskinin.
Pendidikan Islam di Sumatera Barat telah dilakukan sejak tahun 1680, Saat itu kerajaan Aceh merupakan pusat pengembangan agama Islam di Sumatera. Banyak murid yang berasal dari luar belajar ke Aceh, seperti Syech Burhanuddin dari Ulakan Pariaman. Pada tahun 1680 Syech Burhanudiin mendirikan surau yang dijadikan pusat pendidikan Islam pertama . Banyak murid yang berdatangan ke Sumatera Barat untuk belajar.
Melihat situasi dan kondisi serta fungsinya yang sudah merupakan tempat belajar ,dapatlah disimpulkan bahwa surau adalah sekolah Islam pertama di Sumatera Barat. Sejak abad 17-19 surau disamping sebagai pusat pempat tendidikan agama Islam, juga berfungsi sebagai tempat ibadat dan sekaligus tempat tinggal . Menurut Sidi  Gazalba "Surau atau langgar yang disebut sebagai tempat pengajian atau belajar merupakan unsur kebudayaan asli . Setelah islam masuk maka menjadi bangunan islam. Dahulu tempat ini bertujuan sebagai tempat bertemu, berkumpul, berapat dan tempat tidur pemuda-pemuda yang bersifat daerah........"
Pendidikan dan pengajaran Islam ini sangat maju pada masa itu , berkat usaha-usaha yang dilakukan kaum pembaharuan serta didukung oleh kerajaan Islam. Namun setelah kerajaan Islam itu jatuh dan kaum paderi dapat dipatahkan oleh penjajahan Belanda, Pendidikan dan pengajaran Islam menjadi mundur. Meskipun demikian, pendidikan Islam di surau-surau tetap berdiri dan tidak pernah mati walaupun pemerintah penjajahan mendirikan beberapa sekolah sebagai saingan surau-surau itu.
Sebelum abad ke 19 banyak praktek agama Islam yang menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Islam. Praktek yang menyimpang itu sudah menjadi adat dan tradisi bagi masyarakat di Minang Kabau. Praktek agama yang menyimpang itu dilakukan dalam upacara adat misalnya menyabuang ayam., Pada acara mengadu ayam, biasanya mereka saling mempertruhkan uang atau sejumlah harta benda . Penyimpangan lainnya adalah kebiasaan minum tuak sampai mabuk, dalam acara adat menganggap keramat seorang guru, meminta berkat pada makam yang dianggap keramat. Kegiatan-kegiatan ini sangat jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Adanya penyimpangan ajaran Islam di masyarakat menimbulkan pemikiran para Tokoh masyarakat dan ulama untuk mencari pemecahannya, solusi yang diambil untuk meluruskan ajaran agama islam adalah dengan cara mendidik rakyat secara keras untuk kembali menjalankan ajaran Islam dengan baik. Rakyat disuruh untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Mulanya tindakan ini membuat goncang rakyat Minang kabau . reaksi yang keras muncul dari kaum adat yang sudah terbiasa melakukan kebiasaan tersebut, itu sudah mendarah daging bagi mereka. Oleh karena itu mereka menentang keinginan kaum agama tersebut. sementara dikaum agama, melarang dengan keras yaitu menindak dengan tegas penyimpangan-penyimpangan. Pertentangan kedua pihak ini menimbulkan perang saudara antara sesama orang minangkabau. Pertentangan terjadi antara penganut agama Islam yang berhaluan keras dengan penganut adat yang memegang teguh kebiasaan.
gagasan pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut merupakan ide pembaharuan pertama dibidang pendidikan Islam di Sumatera Barat. Pertentangan antara kaum adat yang mendapat dukungan dari Belanda dengan kaum pembaharuan yang terlalu keras menyebabkan banyak jatuh korban di kedua belah pihak. Ini berarti apa yang menjadi tujuan sebenarnya tidak tercapai dengan maksimal melainkan justru mendapat kerugian, sementara itu, Belanda semakin memperluas jajahannya di daerah Minangkabau.
Ide pembaharuan pendidikan Islam yang kedua datang dari Syech Khatib dan dilanjutkan oleh murid-muridnya seperti H.A.K.Amrullah, M.Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad. Ketiganya merupakan pelopor pembaharuan pendidikan Islam di Sumatera Barat dan seorang lagi berasal dari jawa yaitu K.H.A.Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah.  
Bersambung......................... 
 
Terima Kasih Telah Membaca Artikel Pendidikan Islam Dan Muhammadiyah di Minangkabau. Silahkan Klik Tombol Like Atau Share Untuk Berbagi Artikel Ini Atau Silahkan Di Copy Link http://www.mtsm-sungaibatang.com/2013/04/pendidikan-islam-dan-muhammadiyah-di.html Terima Kasih.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Pengunjung

Rekening Donasi



 
Copyright © 2012. Website Resmi MTs Muhammadiyah Sungai Batang - All Rights Reserved
Jl Lingkar Maninjau Km 5.5 Muaro Pauah Nagari Sungai Batang
Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam 26472 | email : info@mtsm-sungaibatang.com
Support : Ranah Maninjau | Kiat dan Cara |
Created by MPS